Header Ads

Dibalik Fee 10 Persen Proyek Sumur Bor Dinas Pertanian Tuba, Diduga Mark Up DAK 2017


LampungDaily.Com | Di tahun 2017, Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang mendapatkan DAK untuk pembuatan sumur bor sebanyak 50 (lima puluh) titik, yang tersebar di beberapa kecamatan.

Pagu anggaran yang disediakan, untuk setiap titik pembuatan sumur bor adalah sebesar Rp. 91.360.000,- (sembilan puluh satu juta tiga ratus enam puluh ribu rupiah), jadi total semua anggaran untuk 50 titik dalam pembuatan sumur bor sebesar Rp. 4.568.000.000,- (empat miliar lima ratus enam puluh delapan juta rupiah).

Dari hasil investigasi yang dilakukan oleh Lampungdaily.com kepada narasumber yang enggan disebutkan namanya, memperoleh data yang cukup mencengangkan. “Oknum Kepala Dinas Pertanian berinisial SO, meminta fee sebesar 10 % kepada pelaksana proyek di setiap titik pembuatan sumur bor,” paparnya.

Sudah bisa dipastikan berapa banyak uang yang diraup oleh oknum kepala dinas pertanian tersebut, nilai uangnya cukup fantastik karena mencapai Rp. 456.800.000,- (empat ratus lima puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah).

Belum lagi ditambah dengan dugaan mark up anggaran yang terjadi di setiap titik pembuatan sumur bor, dari hasil pengecekan langsung ke TKP di salah satu titik menemukan data yang sungguh membuat geleng-geleng kepala.

Dari pagu anggaran yang disediakan untuk pembuatan 1 titik somor bor sebesar Rp. 91.360.000,- (sembilan puluh satu juta tiga ratus enam puluh ribu rupiah), setelah dilakukan cek dan ricek dilapangan diperoleh data sebagai berikut; dalam pembuatan 1 sumur bor sedalam 75 meter, apabila kita terima langsung keluar air dari tukang sumur bor hanya memerlukan dana sebesar Rp. 15 Juta, harga mesin genset listrik dengan daya 2400 watt seharga Rp. 10 Juta dan jika biaya pembuatan untuk dudukan genset dan penampungan air menghabiskan dana sebesar Rp. 10 Juta, total dana yang dihabiskan adalah sebesar Rp. 35 Juta saja.

Dugaan dana mark up di setiap titik pembuatan sumur bor adalah sebesar Rp. 91.360.000 - Rp. 35.000.000 = Rp. 56.360.000,- (lima puluh enam juta tiga ratus enam puluh ribu rupiah). Jadi total dugaan perkiraan dana mark up dalam proses pembuatan 50 titik sumur bor pada proyek di Dinas Pertanian tahun 2017 adalah sebesar Rp. 56.360.000,- X 50 = Rp. 2.818.000.000,- (dua miliar delapan ratus delapan belas juta rupiah).

Apabila dugaan penerimaan uang fee 10 % dari 50 titik pengadaan sumur diperoleh dana sebesar Rp. 456.800.000,- (empat ratus lima puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah) yang didapat oleh oknum Kepala Dinas Pertanian berinisial SO ditambah dengan dugaan dana mark up pembuatan 50 titik sumur bor sebesar Rp. 2.818.000.000,- (dua miliar delapan ratus delapan belas juta rupiah), total keseluruhan perkiraan dugaan kerugian Negara dalam proyek ini adalah sebesar Rp. 3.274.800.000,- (tiga miliar dua ratus tujuh puluh empat juta delapan ratus ribu rupiah).

Menyikapi pemberitaan yang ke kedua kalinya diterbitkan dibeberapa media online nasional terkait dugaan pungutan fee setoran wajib bagi kontraktor dari pekerjaan 50 titik pengadaan sumur bor yang bersumber dari dana alokasi khusus (DAK) tahun anggaran 2017 yang terkesan dikerjakan asal jadi dan terbengkalai, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten tulang Bawang, Kenedi terkesan kesal dan geram kepada wartawan, serta diduga kadis dan sekretaris mangkir kerja dari tugas dikantornya.

Hal ini terbukti saat wartawan berkunjung ke Dinas Pertanian, Senin (04/06/2018) guna konfirmasi terkait pemberitaan tersebut, namun kadisnya selalu tidak ada ditempat. Hal itu diungkapkan oleh para staf yang bekerja di Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang saat dipertanyakan oleh wartawan. Sama halnya dengan Kadis, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang, Kenedi juga tidak ada diruang kerjanya.

Hal ini menimbulkan kesan pejabat tersebut enggan untuk memberikan informasi publik kepada media terkait dugaan mark up dana anggaran pengadaan sumur bor tersebut ditahun 2017.

Hingga Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang, Kenedi saat dihubungi  melalui telpon seluler, Senin (04/06/2018) sekitar pukul : 09:00 wib untuk bertemu, namun kenedi mengatakan dirinya sedang diperjalanan untuk menghadiri rapat penting, sembari mengungkapkan kekesalan kalau dirinya sudah menjadi bahan berita oleh media, selanjutnya merespon untuk berjumpa sesudah dirinya pulang dari rapat.

Mendengar ungkapan kenedi selaku orang nomor dua di Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang menentukan jam untuk bertemu, namun setelah sekian lama ditunggu sampai sekitar pukul 14:30 wib, Kenedi tak kunjung datang kekantornya.

Dengan informasi ini, diharapkan pengusutan dari aparat penegak hukum, terkait proyek pengadaan dan pembuatan sumur bor sebanyak 50 titik di tahun anggaran 2017 pada Dinas Pertanian Kabupaten Tulang Bawang sangat dinantikan publik.

"Jangan sampai aparat penegak hukum ikut bermain mata dan masuk angin dalam mengusut kecurangan yang terjadi," ujar Wasisto, Warga Menggala yang mengikuti perkembangan kasus ini.

Penulis : Prabu
Editor  : Chandra Foetra S


Tidak ada komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.