Header Ads

Menelisik Mengapa Warga Negara Batin Mengamuk


LampungDaily.Com | Kenapa dan mengapa  warga Desa Negara Batin Jabung Lamtim mengamuk hingga terjadi kerusuhan beberapa waktu lalu? Bagaimana mungkin dalam tenggat waktu se-jam ribuan massa bisa berkumpul membela Mansursyah sang Kepala Desa. Benarkah dia hendak ditahan? 

Sejumlah pertanyaan kritis itu muncul kepermukaan saat awak media menginvestigasi terkait kasus ini. Bahkan menurut Ibrahim Efendi (Siwo), warga Negara Batin dan  Zainal Abidin, aktivitis sosial Lamtim juga mengungkapkan hal yang sama.

Dalam wawancaranya terkait amuk massa yang terjadi beberapa waktu lalu itu, Ibrahim Efendi (Siwo) mengatakan hadirnya ribuan massa seperti itu tidak mungkin bisa terkumpul dalam dua jam, kecuali digerakkan hati nurani masing-masing.

“Anak-anak kecil saja sudah nggak takut. Tinggal sejengkal pemikiran kita,” tuturnya menganalisis peristiwa amuk massa itu.

Menurut  Siwo, ada warga Jabung yang ditembak mati --- warga setempat diam saja karena mereka salah. “Banyak warga Jabung  ditembak mati, Diam saja kami, Karena mereka salah. Ini Kepala Desa nggak salah?,” ujarnya.

Menurut Ibrahim Efendi, dirinya  melihat adanya dugaan rencana penangkapan terhadap  kepala desa itu  berkaitan dengan rencana mereka demo ke Kantor Kecamatan.

“Kanit Intel polsek Jabung  menelpon dirinya  konfirmasi, menanyakan korlap, rencana, dan tujuan demo. Tak lama setelah itu,  “Sore Kepala Desa dibawa,” imbuhnya.

sementara itu  Zainal Abidin yang disebut-sebut salah satu "provokator" penggerak massa ke  PT Austasia dan Polsek Jabung, mengatakan, “Kalau saya  disebut provokator, apa saya sanggup  mengumpulkan massa sebanyak itu?. Ini kan terkait penyelidikan yang tidak berimbang. Kalau mau mengetahui provokatornya, ya perusahaan itulah,” ujarnya.

Sebagai aktivis sosial, dirinya  menyayangkan peristiwa itu. “Jika Pemda dan Kepolisian berimbang penyelidikannya, kejadian itu tidak akan terjadi," tegas Zainal.

Menurut Zainal, masyarakat selama ini meminta “terang benderang terkait penanganan permasalahan tersebut".

"Jangan ada main mata. Sepertinya ada penggiringan. Seharusnya dilihat penyebabnya apa. Saya melihat ketidak adilan telah terjadi. Kalau saya sendiri, saya tidak mau buat keributan. Saya nggak mau Jabung ini ribut,” katanya.

Sebagai aktivis, Zainal Abidin mengaku malah sudah pernah ditawari fasilitas.  “Mereka memanggil kami untuk program bea siswa dan penawaran fasilitas lain, tetapi kami menolaknya," imbuhnya.

Untuk saat ini, masyarakat tidak mau.

"Kami merasa ganjil. Kenapa setelah lama berdiri, setelah ada kasus ini, baru ada tawaran. Karena itu kami menolaknya,” pungkasnya.

Jurnalis : Herwan Toni

Tidak ada komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.