Header Ads

Buntut Sengketa Tanah di Negara Batin, Mansur: Demi Warga Mati pun Saya Tidak Takut


LampungDaily.Com | Beberapa Waktu lalu,  tepatnya Hari Sabtu malam minggu (17/3/2018), Warga Desa  Negara Batin Kecamatan  Jabung,  Lampung Timur, marah dan mengamuk.

Selain mendatangi PT. Austasia Stock Feed -- warga yang terlanjur marah membakar satu unit Sepeda motor dan merusak satu unit Kendaraan lain  serta pos security perusahaan.

Selain itu, warga juga mendatangi  Kantor Polsek Jabung.

Hal itu terjadi karena warga Negarabatin mendengar kabar bahwa  Kepala Desanya ditahan.

Mengapa dan kenapa  warga mengamuk? serta bagaimana bisa dalam waktu kurang dari satu jam ribuan orang bisa berkumpul membela kepala desanya?.

Betulkah Kepala Desa hendak ditahan?  Mansursyah,SE, kepala Desa Negara Batin dalam wawancaranya dengan awak media beberapa waktu lalu pasca terjadinya Kerusuhan mengatakan bahwa  dirinya  diminta menghadap ke Polres Lampung Timur pada pukul 16.00 Wib  sore dan setibanya Di Way Jepara, mereka singgah makan dan shalat magrib.

“Di sana saya mulai curiga karena ada petugas yang meminta saya menandatangani surat penahanan,” kata mansyursah.

Tak hanya itu, Mansursyah juga mengatakan ia baru mau diperiksa, sekitar pukul 21.00.

Menurut Mansur, seorang anggota polisi dari Polsek Jabung memintanya menelepon warga, dan  mengatakan bahwa saya  sudah pulang ke Negara Batin. “Saya lihat di fotonya warga sudah ribut,” tuturnya.

Karena itu, kata Kepala Desa Negara Batin, dirinya  meminta pulang untuk menenangkan warganya, Tetapi seorang anggota  mengatakan ia akan tetap ditahan  atas perintah seorang jenderal.

“Setelah melihat api, di situlah Kapolres Lampung Timur  mengatakan, ‘walau dicopot jabatan saya, kepala desa  ini kita bawa pulang,” katanya.

Atas jaminan Kapolres, lalu situasi  berhasil dikendalikan, diamankan  serta kondusif dan terkendali. Terlebih setelah warga melihat langsung  Mansursyah pulang dan berpidato didepan masyarakat, Minggu (18/03/2018).

Warga langsung  membubarkan diri. Sebagian ke rumah Kepala Desa kumpul  bersama Camat Jabung, Asisten I, dan Kepala PMD Lampung Timur dan lain-lain.

Persoalan  mengapa ia hendak ditahan membuat SKT, Mansyursah menuturkan, awalnya bermula dari konsultan, yang tanpa izin  ke Desa melakukan pengukuran lahan. “Setelah itu rapatlah di Pemda dengan beberapa dinas, BPN, dan instansi lain, dari situlah saya disuruh bikin SKT,” jelasnya.

Seorang wanita bernama Nuraini, kemudian, mendesaknya segera menyelesaikan SKT. Mansursyah tidak bersedia  karena lahan tersebut sedang sengketa keluarga.

Mansursyah mengatakan, jika PT. Austasia ingin menuntut, sidiklah yang bersalah. “Tolonglah jangan semena-mena. Tegakkanlah hukum dengan sebenar-benarnya. Kalau saya, mati untuk warga tidak akan takut,” pungkasnya.

Jurnalis : Chandra Foetra S.



Tidak ada komentar

Kirim Komentar Anda:

Pembaca dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.